harga-cabai

Pontianak-Kementerian Pertanian RI bekerjasama dengan Dinas Pertanian TPH Prov.Kalbar serta Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat melaksanakan pertemuan untuk membahas Membangun Sistem Stabilisasi Harga Cabai di Kalimantan Barat. Pertemuan tersebut berlangsung di Ruang Sao Langke Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat, selasa (1/12).
Pertemuan Membangun Sistem Stabilisasi Harga Cabai dipimpin oleh Kepala Dinas Pertanian TPH Ir.H.Hazairin,MS didampingi oleh Dwi Suslamanto Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat. Dengan narasumber Dr.Ir.Hasanuddin Ibrahim,Sp.I Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasonal.
Dalam paparan Dr.Ir.Hasanuddin Ibrahim,Sp.I mengatakan mengapa perlu Membangun Sistem Stabilisasi Harga Cabai karena cabai merupakan salah satu komoditi penyumbang inflasi di Indonesia untuk itu perlu adanya membangun system stabilisasi harga cabai tersebut. Beberapa factor yang menyebabkan harga cabai mengalami turun dan naik yang drastis adalah Sebagian besar petani cabai mulai tanam saat hujan à panen raya saat kemarau (Juli-September), kondisi alam, keterbatasan modal, mengurangi resiko gagal panen/provitas menurun. Musim Kering : Kelangkaan sumber air,tidak bisa membangun fasilitas pengairan, pompa air mahal, saat kemarau banyak hama penyakit, pertumbuhan vegetatif terganggu berpengaruh pada daya tahan tanaman tersebut. Musim Hujan :Serangan penyakit meningkat antara lain virus kuning, fusarium, antraknosa, lalat buah, hujan menyebabkan bunga rontok, buah mudah busuk, biaya petik meningkat, Gangguan distribusi/macet mengakbatkan rusak dalam perjalanan, “ungkap Hasanuddin Ibrahim.
Lebih lanjut Hasanuddin Ibrahim mengatakan untuk mengantisipasi hal tersebut maka diperlukan strategi pengendalian harga cabai yang antara lain Penyuluhan Tanam Cabai Saat Musim Kemarau, mengembangkan sentra pertanaman dekat pasar, membangun packing house, olahan cabai kering dan cabai pasta di Kabupaten/Kota sentra contoh India danIran, kampanye/sosialisasi/iklan layanan masyarakat cara mengkonsumsi cabai kering dan cabai olahan lainnya, kemitraan petani-pabrikan cabai industri/cabai TW, mengadakan pertemuan rutin bulanan rencana evaluasi luas tanam (pabrikan benih, PEMDA Kecamatan, Wakil petani), mengaktifkan peran Gapoktan PUAP atau penerapan Kepala Desa sebagai garda terdepan pengendali harga (beli saat harga jatuh-dijemur-buat pasta), beli saat harga tinggi untuk didistrinuskan ke kawasan harga rendah (kerugian dibayar pemerintah),”pungkas Hasanuddin Ibrahim.
Pertemuan Membangun Sistem Stabilisasi Harga Cabai juga dihadiri Dinas Perdagangan Prov.Kalbar, Badan Pusat Statistik Prov.Kalbar, Dinas Pertanian Kota Pontianak, Dinas Perdagangan Kota Pontianak serta perwakilan petani dan pedagang Cabai Kota Pontianak dan Kubu Raya.

 source : http://www.kalbarprov.go.id/berita.php?id=5180