1

Berangkat dari keprihatinan dimana Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah dengan produktivitas padi terendah secara nasional, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat (KPw BI Kalbar) terketuk untuk ikut mendorong ketahanan pangan masyarakat di Bumi Khatulistiwa. Dari 14 Kabupaten/Kota di Provinsi Kalbar, terdapat 8 wilayah yang statusnya defisit produksi beras, sementara 6 wilayah lainnya sudah surplus produksi. Kalbar juga masih mengimpor beras dari daerah lain terutama Jawa sebanyak 33.474 ton/tahun terutama karena kualitas beras lokal belum bisa memenuhi permintaan masyarakat khususnya terhadap beras premium.

Dengan memperhatikan luasnya wilayah kerja serta berbagai keterbatasan yang dimiliki, KPw BI Kalbar pun bersinergi dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) serta Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (Banketpanluh) Kalimantan Barat. Selain memberikan bantuan teknis, ketiga pihak tersebut berbagi peran dalam mewujudkan Kalimantan Barat mandiri pangan. Distan TPH Kalbar mengembangkan metode tanam Hazton yang mampu mendorong produktivitas padi, Banketpanluh Kalbar merintis Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM), Sedangkan KPw BI Kalbar membantu memperkenalkan metode tanam Hazton dan LDPM kepada petani dan ikut mengawal perkembangannya. Untuk mengakselerasi hal tersebut, KPw BI Kalbar juga memberikan bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa saprotan untuk demplot lahan percontohan serta Rice Milling Unit (RMU) kepada kelompok tani.

Metode Tanam Hazton

Dalam mendorong produktivitas padi, Distan TPH Kalbar mengembangkan metode tanam yang dikenal dengan Teknologi Hazton. Dalam metode tanam ini, dalam satu lubang tanam direkomendasikan untuk menggunakan 20-30 bibit/anakan. Metode ini telah terbukti berhasil melipatgandakan hasil panen di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat.

psbi 2

Sejak awal dilakukannya riset dan ujicoba pada tahun 2013, Distan TPH Kalbar telah mendapat dukungan penuh dari KPw BI Kalbar melalui wadah TPID Provinsi Kalimantan Barat. Melalui sosialisasi intensif bersama KPw BI Kalbar, kini teknologi tersebut telah banyak direplikasi di seluruh wilayah Kalimantan Barat. Bahkan saat ini penerapan teknologi tersebut juga telah telah menjalar ke beberapa provinsi lain seperti Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Sumatera Utara, dll. Tak sedikit pula pihak yang telah ikut bersinergi dalam gerakan ini seperti TNI, BPTP, Perguruan Tinggi, dll.

Tantangan utama memperkenalkan Teknologi Hazton kepada petani adalah merubah kebiasaan petani dalam menanam benih. Guna mengakselerasi pemanfaatan Teknologi Hazton, KPw BI Kalbar pun ikut ambil bagian dalam pengembangan demplot lahan percontohan di tujuh kabupaten di Kalimantan Barat melalui bantuan PSBI berupa saprotan seperti benih, pupuk, dll. Hasilnya panennya pun mengejutkan. Di semua demplot terjadi peningkatan produktivitas minimal dua kali lipat dari sebelumnya. Selain itu petani mengaku dengan Teknologi Hazton, tanaman menjadi relatif tahan hama (terutama keong mas), pekerjaaan lebih ringan karena tidak perlu banyak melakukan penyiangan dan penyulaman, kualitas gabah lebih tinggi (beras pecah berkurang), dan umur panen menjadi lebih singkat.

psnbi 3 

Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat

Di beberapa wilayah surplus produksi beras di Kalbar, petani masih menghadapi beberapa kendala klasik yaitu jatuhnya harga gabah pada saat panen raya, serta ancaman krisis pangan bila terjadi gagal panen. Banketpanluh bersama KPw BI Kalbar pun akhirnya menggandeng beberapa Gapoktan di Kalimantan Barat untuk membentuk Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) yang bertujuan mewujudkan stabilitas harga pangan di wilayah serta mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga petani.

Untuk mewujudkan stabilitas harga pangan, LDPM akan membeli gabah kering panen dari anggota sesuai Harga Pokok Penjualan (HPP) Gabah yang ditetapkan pemerintah guna mencegah kerugian saat panen raya. Sedangkan untuk mewujudkan ketahanan pangan, LDPM dapat memberikan pinjaman kepada anggota dalam bentuk gabah dan beras. Bentuk dan periode pengembaliannya diatur sesuai kesepakatan, sehingga dapat mencegah krisis pangan di tingkat rumah tangga petani pada saat musim paceklik atau gagal panen.

Beberapa kendala yang dihadapi adalah minimnya dana kelolaan LDPM sehingga kegiatan distribusi pangan masih terbatas, kemudian minimnya alat pengolahan pasca panen sehingga kapabilitas usaha Gapoktan masih rendah. Minimnya dana kelolaan mengakibatkan LDPN hanya mampu menyerap sedikit sekali potensi produksi Gapoktan. Maka itu diperlukan peningkatan dana kelolaan LDPM melalui pemanfaatan potensi usaha di wilayah Gapoktan sebagai sumber cashflow berupa penambahan modal. Salah satu upaya tersebut dilakukan dengan pemberian bantuan PSBI berupa Rice Milling Unit (RMU) yang bertujuan menambah pendapatan LDPM melalui usaha penggilingan, meningkatkan nilai tambah produk yang dijual oleh Gapoktan dari semula berupa gabah menjadi beras siap konsumsi, serta memanfaatkan sumber pendapatan lain melalui pemanfaatan limbah penggilingan berupa sekam dan dedak. Program ini juga dikombinasikan dengan Bantuan Teknis pengelolaan keuangan untuk LDPM.

Hasil Yang Dicapai Sejauh Ini

Selain meningkatnya kesejahteraan dan kualitas SDM Gapoktan seiring dengan adanya peningkatan produktivitas, kualitas pengolahan, produk, serta pemasaran, pada tahun 2015 ini anggota Gapoktan binaan pun mengalami peningkatan. Sebagai contoh, di salah satu Gapoktan binaan yang berlokasi di Kabupaten Mempawah yaitu Gapoktan Nekat Maju saja, peningkatan produksi meningkat dari rata-rata 3-4 ton/hektar menjadi 9-9,5 ton/hektar setelah menerapkan Teknologi Hazton.

Dengan adanya RMU bantuan Bank Indonesia, dana kelolaan LDPM Gapoktan Nekat Maju pun meningkat. Dana kelolaan Unit Distribusi Pangan naik dari Rp 175 juta menjadi Rp 215 juta. Sedangkan dana kelolaan Unit Cadangan Pangan naik dari Rp 20 juta menjadi Rp 30 juta. Jumlah kelompok tani yang bergabung pun bertambah dari 7 poktan menjadi 11 poktan. Dengan meningkatnya kapasitas usaha dan bertambahnya poktan, luas areal yang mengaplikasikan Teknologi Hazton pun meningkat dari 25 hektar menjadi 200 hektar. Kini, Gapoktan yang diketuai Bapak Bukari itu pun telah mencapai tahap mandiri. Gapoktan bahkan sudah mampu mendirikan bangunan gudang dan rumah pengeringan secara swadaya.

Namun tak berhenti sampai disitu, upaya peningkatan akses pemasaran pun terus dilakukan dengan melakukan tiga perjanjian kerjasama pembelian beras. Begitu pula dengan upaya peningkatan akses bahan baku dimana telah dilakukan perjanjian penyediaan benih/bibit bekerjasama dengan Balai Benih Induk Peniraman. Melalui upaya dan kolaborasi bersama ini, bukan tak mungkin suatu hari nanti swasembada pangan di Bumi Khatulistiwa tak lagi sekedar mimpi. Semoga.